Selasa, 08 Maret 2016

Teh Tawar #cerpen



Saat itu pukul delapan. Kau menelponku tiba-tiba. Kau menanyakan aku sedang berada dimana. aku sedang di apartemen, jawabku. 

Jangan kemana-mana, sepuluh menit lagi aku di depan pintu apartemenmu.

Oke, ada apa? Tanyaku. Tak kau jawab. Hanya terdengar nada terputus diujung sana.

Tak perlu kau jawab, aku sudah tahu apa yang akan terjadi, lebih tepatnya apa yang akan kau ucapkan. Sudah lebih dari empat minggu kau tak menghubungiku. Menghubungi seperti biasa. Kalimat-kalimat sms mu terihat aneh akhir-akhir ini. Aku tahu akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi aku tak terlalu memikirkannya. Itu terlalu menyakitkan.

20.10

kau masih belum datang. Jantungku berdegup menunggumu. Dengan gugup aku memandang cermin di pojok ruang. Ah, wajahku amat kacau. Ada lingkaran hitam di bawah mataku. Akhir-akhir ini aku memang tak bisa tidur nyenyak. Banyak sekali yang aku pikirkan. Tugas akhir misalnya, hampir membuatku gila.

Dengan malas aku pergi ke kamar mandi, berharap dengan mencuci muka, wajahku yang berantakan ini tak terlalu terlihat menyedihkan. Aku tak pandai merawat wajah, tapi aku bersyukur wajah yang sedang kupandangi di depan cermin ini adalah wajah milikku.

20.20
 
suara ketukan pintu. Itu kau. Dengan sedikit berlari aku membuka pintu, kau dengan kemeja biru dan celana jeans hitam yang sudah mulai pudar terlihat basah. Aku hanya memandangmu,

Di luar hujan, dan aku malas pakai jas hujan.

Kau menjawab seakan aku bertanya. 

Kau langsung duduk di kursi yang biasanya kau duduki. Kali ini aku tak duduk disampingmu, aku memilih kursi di depanmu. Dulu, saat aku memilih duduk disini, kau selalu merengek, meminta dengan manja agar aku duduk disampingmu. Lalu, dengan malas yang disengaja aku beralih duduk disampingmu. Kali ini, kau tak merengek, bahkan kau terlihat nyaman saat aku memilih kursi yang terletak jauh darimu. Jauh dari jangkauanmu.

Kemana saja? Kenapa sulit sekali menghubungimu? Tanyaku.

Aku sibuk akhir-akhir ini. kau tahu itu. banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Kau bosan, aku tahu. Kau hanya tak mampu mengucapkannya bukan? Atau kau tak mau dianggap laki-laki pecundang?.


Hahaha

Lihatlah kau tertawa. Aku tertawa. Kita tertawa. Tapi, dipelupuk matamu aku tahu, kau sedang menertawakan kebohongan. Sayang, kau tak pandai berbohong.
Aku diam saja memandangmu.

Bagaimana kabarmu?

Aku jawab baik-baik saja. Lihat, aku tambah gemuk, tambahku. Lalu kau mengangguk mengiyakan. Matamu melihat sekeliling ruangan. Tatapanmu asing. Aku tahu yang sedang kau pikirkan. Jangan pernah meremehkan insting seorang perempuan, sayang. Tapi, Aku tak mau menanggapi pikiran ku tentangmu kali ini. saat ini aku hanya perlu duduk dan memandangmu, aku hanya perlu menikmati kebohongan dan menunggu dengan sabar bagaimana akhir dari sandiwara ini.

Akan ku buatkan kau kopi, kataku.

Tidak, teh saja, aku sedang malas minum kopi.

Lihatlah, kau sungguh berbeda hari ini, sayang, kataku.

Kau selalu bawa perasaan.

Aku beranjak pergi dari kursiku. Pergi ke dapur dan membuatkanmu teh.

Tak usah pakai gula.

Aku terdiam beberapa detik di tempatku. Kau kenapa? Tanyaku. Bukankah kau penggemar gula? Imbuhku.

Aku sedang tak suka dengan gula. Aku ingin teh tawar saja.

Aku sengaja berlama-lama di dapur. Aku ingin menyembunyikan kegugupan ku. aku sungguh takut dengan apa yang akan ku dengar sebentar lagi. Kau tahu sayang, menjadi perempuan yang tegar dan mandiri tak selalu menyenangkan. Aku tahu, kau tak suka dengan perempuan yang selalu bergantung dengan laki-laki. Dan sialnya, sewaktu kencan pertama kita dulu aku mengiyakan pernyataanmu itu. Dan aku tak mau nampak pecundang didepanmu.

Aku membuat teh untuk mu dengan gelas yang menurutku paling indah. Ada sepasang manusia di gelas itu. wajahnya tak terlalu jelas, samar. Gelas itu berwarna merah muda. Salah satu warna favoritmu. Aku membuat segelas teh tawar dengan amat perlahan. Sesempurna mungkin. Selama mungkin.

Kau masih lama?

Oh, sayang, suaramu terdengar tak sabar. Dengan nafas berat aku kembali ke ruang depan sambil membawa segelas teh tawar untukmu.

Wajahmu cemas, namun kau masih saja mencoba untuk tersenyum.
Sayang, jangan dipaksakan. Melihatmu seperti itu membuatku lebih merana.

Aku diam.

Kau juga diam.

Kenapa hanya satu cangkir?

Karena aku tahu sayang, kau sedang tak ingin berlama-lama disini, jawabku asal.

kau tahu itu tidak benar, aku hanya sedang terburu-buru.

Lalu, ada apa? Tanyaku.

Kau masih diam saja.

Gak mungkin kan kamu datang hujan-hujan begini hanya untuk minum teh tawar?


Emm, Aku datang kesini untuk menjawab pertanyaanmu tempo lalu.

Apa? Tanyaku.

Iya, lebih baik kita akhiri saja.

Kenapa?


Kau masih tanya kenapa? Kau sendiri kan yang mengatakan hubungan ini tak mungkin bertahan lama? Kau juga yang selalu mengatakan kalau aku kekanakan? Iya kan? Kau juga yang selalu mengeluh? Kau juga bilang kalau sebenarnya kau sudah tak tahan, sudah jenuh, iya kan?

Mulutku refleks membuka. Ingin menjawab. Tapi taka da bunyi yang keluar. Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini?

Aku tak mampu menjawab. Sayang, oh, maafkan aku, aku hanya sedang marah saat itu. kau tahu sendiri, aku selalu begitu kalau aku benar-benar sendiri dan membutuhkan seseorang disampingku, sialnya kita berjarak, tak mudah untuk merasakan pelukanmu disisiku.

Tapi kata-kata itu tak mampu keluar dari mulutku.

Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin.

Ngomong dong!

kau sudah menemukan perempuan lain? Tanyaku spontan. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menatap matamu. Iya, aku harus tahu, apa yang membuat dirimu seperti ini. Aku mengenalmu, sayang. Kau telah menemui perempuan lain.

Jangan mengalihkan pembicaraan!

Jangan pernah berbohong dengan mata itu sayang. Aku tahu hubungan ini harus diakhiri. Aku tak akan marah kalau kau menyalahkanku, memang benar aku yang terlalu banyak melakukan kesalahan, terlalu sering menyakitimu. Ya, aku tahu, kau telah menemukan perempuan yang mungkin kau idamkan, sesuai dengan permintaan keluarga besarmu.

Iya, aku jenuh, kataku. Aku sudah muak dengan hubungan ini. Tentu saja aku bohong,

Iya? Benar?

Aku diam saja.

Kau lalu berdiri mengambil handphone mu, wajahmu terlihat sedih, tapi juga ada rasa kemenangan disana. Ya, kau lega kan kita berpisah?

Kau akan menyesal…

Mungkin, kataku.

Lalu kau pamit pergi. Kau menutup pintu apartemen dengan perlahan. Kau terobos hujan malam-malam.

Aku masih terdiam duduk di kursi. Sayang, kau bahkan tak mencicipi teh tawarmu.

Kamis, 01 Oktober 2015

Grogi,


Bulan September lewat sudah.

Kini berganti dengan bulan Oktober. Bulan ini ada yang baru dari rutinitas keseharianku. Bulan ini aku grogi. Amat grogi. Banyak hal baru muncul. Termasuk kamu, kamu selalu saja baru di tiap bulan ku.

Awal Oktober adalah hari pertama saya mencoba untuk bekerja. Bekerja disalah satu cafe yang sudah aku kenal cukup lama. tujuan aku bekerja sebenarnya adalah karena aku butuh uang. Uang beasiswa ku sedang tak lancar, serta uang kos yang masih belum sanggup aku bayar. Walapun, mungkin jika aku sedikit lebih sabar dan lebih memelas sedikit, tentu Bapak akan memberikanku uang. Tentu uang dari Bapak itu, aku anggap uang pinjaman. Selain alasan klise ala mahaiswa tadi, aku juga butuh uang untuk jaga-jaga jika nanti aku tak lulus empat tahun. Beasiswaku sudah tak menjamin jika aku nakal, lewat batas delapan semester.

Sebenarnya, Ibu dirumah tidak tahu jika aku bekerja. Jikalau beliau tahu, urusan pasti bakal runyam. Bukan karena aku bekerja, tapi pekerjaanku yang menuntut pulang malam. Untung saja Ibu tak punya blog, twitter, facebook atau BBM. Ibuku bukan tipikal ibu-ibu metropolis. Hape jadul tempo dulu ternyata sudah cukup membuat beliau tersenyum bahagia, walaupun sesekali beliau juga marah, karena tak ada gunanya punya Hape jika anak-anaknya yang beda kabupaten dengannya jarang sekali memberi kabar. Ngirim sms.

Bulan Oktober, adalah bulan buat aku untuk belajar bagaimana caranya membagi waktu. Waktu-ku yang hanya 24 jam. 24 jam yang terlihat sangat cepat jika ditinggal tidur seharian, dan terlihat sangat lambat jika digunakan untuk nunggu kamu. Tentu, bulan oktober berbeda dengan dua bulan sebelumnya. Kalau yang ini, kamu pasti paham.

Bekerja ternyata tak semudah yang dilihat, tak segampang ngupil. Aku grogi. Aku grogi jika nanti aku tak bisa melakukannya dengan maksimal. Aku grogi jika nanti Ibu tahu. Aku grogi aku tak cukup mampu bekerja. Aku grogi jika mereka kecewa.

Ah, mental ku ini kok lemah ya.

Udah ah, aku grogi untuk nulis lagi. Biarlah, hari minggu nanti aku lampiaskan saja semua padamu.



Jumat, 25 September 2015

Apes,


Saya tak tahu apakah harus bersyukur atau mengeluh. Pagi itu, saya berencana berangkat ke Jember menggunakan Bus. Sialnya, hampir satu jam menunggu, bus tak juga muncul. Tak berapa lama, tiba-tiba ada mobil kijang berhenti di depan saya. Bapak berumuran 50-an muncul menawarkan tumpangan. Ini gratis, pikir saya. Jelas saja, saya senang. Bagaimana tidak? Uang saya tinggal dua puluh ribu rupiah. saya sudah membayangkan bahwa tiga hari kedepan saya masih bisa makan.

Didalam mobil, terdapat kurang lebih empat mahasiswa. Saya duduk dibelakang sendiri. Sekedar basa-basi dengan teman sebelah saya, ternyata dia salah satu teman akrab sahabat saya di rumah, Nesa.Kami mulai mengobrol. Kemudian, saya menyinggung masalah biaya kendaraan yang sedang kami tumpangi. Tentu saja saya menanyakannya dengan mengetiknya melalui pesan teks via handphone. Ternyata, perempuan yang duduk disebelah saya itu, juga tak tahu menahu mengenai biaya tumpangan. Katanya, pokoknya ini ndak gratis mbak.

Mampus.

Saya langsung diam. Ah, mungkin tak lebih dari dua puluh ribu pikir saya. Lha wong, naik bus aja Cuma lima belas ribu dari rumah.

Sampai terminal pakusari bapak berumuran 50-an itu berhenti disalah satu toko 24 jam. Ah, mumpung si sopir lagi keluar saya memberanikan diri bertanya biaya yang di patok pada perempuan yang duduk didepan saya.

 Dua puluh lima ribu mbak, katanya.

Jedyer.

Otomatis saya panik. Uang saya Cuma dua puluh ribu rupiah. minus lima ribu rupiah. saya bingung, saya melirik perempuan yang duduk disebelah saya. Dengan memberanikan diri, dan membuang rasa malu jauh-jauh,

Boleh pinjam uang lima ribu rupiah gak mbak?uang ku pas mbak, dua puluh ribu.

Perempuan di sebelah saya itu tersenyum,

gak usah pinjem mbak, turun di unmuh aja bareng saya, biar bayarnya bareng, kali aja mbaknya gak dua puluh lima.

Oke deh, kata saya. Selanjutnya saya memberikan uang dua puluh ribu saya kepada perempuan disebelah saya.

Sesampainya di Unmuh, bapak sopir 50-an itu membukakan pintu.

Dua orang pak, berapa? kata perempuan disebelah saya.

Lima puluh mbak,

Jeglek

Perempuan disebelah saya menyodorkan uang lima puluhan nya.

Pas ya pak.

Enggeh. Matur nuwun.

Matur nuwun, endasmu pak. Batin saya dalam.

Kemudian saya meminta nomor hanphone perempuan itu, saya janji sepulang nanti saya bakal ganti. Saya sangat malu.

Gak usah mbaknya, kan udah temen.

Kalimat terakhirnya membuat saya terpana. Bagaimana mungkin, dia menganggap saya teman? Padahal kenal saja baru tadi di mobil. Saya ucapkan terimakasih, tapi tetap saja saya harus tahu nomor handphonenya. Saya harus ganti.

Sebelum perempuan itu pergi, dia menawarkan untuk menunggu teman yang menjemput saya di kosnya. Saya menolak. Karena saya tahu, teman yang mau menjemput saya tak bakal datang.

Setelah itu, saya jalan kaki dari Unmuh sampai kampus.

Sambil mengumpat dalam hati,

Apes tenan!

Selasa, 15 September 2015

Cong Kenek


Lupa Kalau Berangkat dengan Suami

Sudah tua, penyakit lupa biasanya memang suka menyergap. Tapi, kalau lupa dengan suami saat berpergian, bisa berabe. Salah-salah, suami bisa ilang beneran.

Hubungan suami istri Cong Kenek dengan Yu Tub sudah tiga puluh lima tahun berjalan. Masa-masa romantis sudah tidak lagi ada. Anak pun sudah tiga, dan cucu satu. Hidupnya kini datar-datar saja tanpa ada warna.

Apalagi semua anaknya sudah jarang di rumah. Anak pertama dan kedua sudah menikah, sedangkan anaknya yang ketiga masih kuliah di kota tetangga, Jember. Tidak ada lagi yang menghibur mereka dalam hari-harinya. Mungkin hanya pekerjaan Cong Kenek saja yang membuatnya masih mau bergerak, sebagai tukang jahit berusia, 55 tahun.

Yu Tub juga tidak berbeda jauh dengan Cong Kenek. Mereka dulunya dipertemukan oleh keahlian yang sama, yaitu tukang jahit. Antara tukang jahit, pada waktu mereka muda, saling bantu ketika ada pesanan, dan saling mengarahkan kalau pas ada pelanggan yang tidak lagi bisa diatasi sendiri.

Berawal dari situlah Cong Kenek dan Yu Tub saling memadu kasih. Masa muda mereka habiskan dengan penuh romantisme. Segala macam kelakar dan guyonan mungkin sudah habis waktu mereka belum mendapatkan seorang anak. Buktinya, kini mereka tidak lagi punya guyonan, malah terkesan saling melupakan.

Suatu hari Cong Kenek dan Yu Tub ingin mengunjungi anak-anak mereka di kota tetangga itu. Cong Kenek merasa sangat rindu dengan anaknya yang paling bungsu. Karena Cong Kenek merasa, anaknya yang paling bungsu, yaitu Sri, mirip sekali dengan Yu Tub sewaktu masih muda. Penuh dengan canda, dan selalu membuat orang di sekitarnya ceria. Apalagi paras cantik Sri yang menurutnya bisa membuat hati Cong Kenek bangga.

Berangkatlah Cong Kenek dan Yu Tub bersama dengan naik bus. Karena kebetulan sepeda mereka satu-satunya dibawa oleh Sri kuliah. “Akeh acara teng kampus pak, tak beto nggih?” kata Sri waktu meminta izin ke Cong Kenek. Ya mau tidak mau Cong Kenek mengizinkan. Toh, sebenarnya Cong Kenek tidak begitu membutuhkan sepedanya.

Cong Kenek dan Yu Tub tidak berjalan bergandengan. Malahan Cong Kenek berjalan jauh di depan Yu Tub. Saat naik bus pun, Cong Kenek tidak sedikitpun melirik Yu Tub. Dan di atas bus, keduanya duduk terpisah. Cong Kenek jauh di depan, sedangkan Yu Tub di belakang. “Halah iyo wes pak,” batin Yu Tub yang cuek.

Saat dimintai tiket bus, Cong Kenek menunjuk ke arah Yu Tub. “Ndek buri mas. Kae lho sing nggowo kudung abang,” kata Cong Kenek ke kondektur.

Yu Tub pun sudah paham dengan itu. Biasanya juga seperti itu. Karena yang memegang semua keuangan adalah Yu Tub. Termasuk biaya kuliah untuk Sri.

Saat bus sudah sampai di tempat tujuan, Cong kenek tertidur. Yu Tub juga kaget, karena sewaktu diteriaki kondektur, dia baru bangun. Yu Tub pun langsung saja turun, tanpa menunggu suaminya, Cong Kenek.

Yu Tub berjalan sendirian ke rumah anaknya yang kedua, Yu Nah. Dia bertemu dengan Sri dan Yu Nah, yang sudah menunggu kedua orang tuanya itu. Sri pun sumringah melihat ibunya datang membawa oleh-oleh dari rumah. “Lho kok dewean buk? Bapak pundi?” tanya Sri.

Yu Tub malah menjawab seolah-olah dia memang berangkat sendirian. “Lha kan pancen dewean,” kata Yu Tub.

Sri kebingungan mendengar jawaban ibunya itu. Padahal sebelum kedua orang tuanya itu berangkat, jelas sekali ibunya menelepon Sri akan berangkat dengan bapaknya, yaitu Cong Kenek. “Lho jare bareng bapak mau?” tanya Sri memastikan.

Yu Tub terlihat agak berpikir keras. Kemudian dia menepuk kepalanya sendiri. “Lah iyo, aku mau kan karo bojoku yo? Lho endi bojoku iki? Waduuh,” kata Yu Tub.

Yu Tub pun menceritakan kepada anaknya itu kalau mereka berdua tidak satu tempat duduk. Cong Kenek di depan, sedangkan Yu Tub di belakang. “Waduh piye iki Sri? Bapakmu ora nggowo hape pisan,” kata Yu Tub bingung.

Sri dan Yu Nah  pun kemudian mencari Cong Kenek di terminal. Mereka mutar-muter dengan sepedanya, tapi tidak ketemu. Ke rumah pakdenya, juga tidak ada. “Lah yo wes lah. Ayo balik wae enteni nang omah wae,” kata Yu Nah.

Sementara itu, Cong Kenek ternyata sedang berjalan menuju rumah Yu Nah. Yu Tub melihat Cong Kenek tepat di halaman rumah Yu Nah. “Heh! Teko ngendi pak?” tanya Yu Tub.

Keturon aku mau,” kata Cong Kenek datar. Tidak ada yang dipermasalahkan. Dan tidak ada yang diperdebatkan oleh Cong Kenek dan Yu Tub. Peristiwa itu menjadi hal yang wajar bagi mereka berdua. Tapi saat Sri datang, rumah Yu Nah jadi rame. “Lha piye kok bapak dilalekno iki buk?” kata Sri.

Cong Kenek menimpali sebelum Yu Tub menjawab. “Lha wes tuwek ngene, yo lalian nduk,” katanya. (ras)

Berangkat Bareng tapi Merasa Sendirian

***

Tulisan ini dari mas Dian Teguh Wahyu Hidayat. katanya, terinspirasi dari cerita keluarga saya dirumah. Tulisan ini juga dimuat di salah satu koran yang tak jauh dari rumah. hahaha, terimakasih sudah dibuat tulisan ya mas. Ya, meskipun kata emak saya ini gak terlalu sama dengan cerita aslinya. Tapi, lumayan bikin emak ketawa sendiri. :) 

Sabtu, 28 Maret 2015

Ucapan yang Terlambat

Saya tak tahu teman macam apa saya ini. Bayangkan, setiap kamu berulang tahun saya sama sekali tak pernah memberikan kado yang pantas. Buru-buru yang pantas, kasih aja enggak. Mungkin kamu bosan mendengarnya. Alasan yang saya berikan terlalu klise. Setiap tahun, setiap mendekati hari ulang tahun mu. saya selalu memikirkan kado macam apa yang cocok untukmu. Terlalu banyak hal yang ada di dalam pikiran saya sehingga hadiah hanya berupa angan.

Saya yakin, keluargamu telah memberikan hadiah yang lebih dari cukup. Belum lagi teman-temanmu yang lain, hadiah macam kue tart plus kejutan-kejutannya tentu saja sudah menghiasi wajahmu hari ini. profil picture-mu di salah satu aplikasi komunikasi modern sudah  menjelaskannya.

Apa yang bisa saya berikan pada ulang tahunmu kali ini? saya benar-benar tidak tahu. saya terlalu banyak janji. Yang berakhir di tempat sampah karena selalu tak jadi. Saya tak punya apa-apa. Saya bukan sahabat best ever. Kita hanyalah dua orang yang tidak sengaja bertemu. Kita hanyalah dua orang yang terkadang memiliki pemikiran, pemahaman yang sama dalam beberapa hal dalam menyikapi suatu yang tak rumit namun terkesan dirumit-rumitkan.

Lalu, bagaimana dengan Doa? Ah, sekali lagi orangtuamu lebih hebat dalam hal ini. mereka mempunyai doa yang sangat tulus untukmu. Doa dari orang-orang yang mencintaimu tentu sudah lebih dari cukup untuk membuat salah satu impian besarmu terwujud. doa yang saya berikan terlalu murah. Tak sebanding. Saya juga bukan nabi, yang dengan sekali ucap permohanan dapat dikabulkan. Saya hanya manusia angkuh dan sombong. Tak sempurna. Jadi mohon, jangan meminta saya untuk mendoakanmu.

Karena saya tahu, saya tak mampu memberikan apa-apa padamu. Di hari ulang tahunmu ini, Ijinkan saya, meminta sesuatu: berusahalah mewujudkan doa-doa yang mereka ucapkan padamu. Buatlah doa-doa yang mereka panjatkan terkabul. Berusahalah. Kamu sudah umur 21 tahun. Tentu bukan angka yang sedikit lagi. Mengingat semakin dekat juga dirimu dengan tanah. Ulang tahun bukan sesuatu yang patut dibanggakan, sayang. Dengan umurmu yang semakin menipis berusahalah membuat doa-doa itu terkabul. Karena kamu sendiri yang menjalankan hidupmu. Bukan orangtuamu, bukan temanmu, pacar, apalagi saya.

Saat kamu merasa sendiri dan terpuruk, ingatlah, kamu bisa sesekali mempergunakan saya. Yah, setidaknya saya bisa berguna untuk orang lain. Peh, saya tidak melulu dibelakangmu, didepan atau disampingmu. Maka, jika kamu membutuhkan saya kamu hanya perlu katakan, “cuk, nang ndi koen?” 

Jumat, 27 Maret 2015

Mahasiswa, Agent of Silence!



"Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa," ujar Adi


Begitu kiranya kalimat yang keluar dari mulut Adik Ramli, Adi, yang saya tangkap saat menonton film karangan Joshua Oppenheimer kemarin malam. Sebenarnya sudah kedua kalinya saya menonton film Senyap (The Look of Silence). Tapi, sengaja saya menonton sekali lagi karena saya tak sempat merangkum nya menjadi tulisan.


Film ini menceritakan tentang usaha Adi, si Tukang kacamata keliling dalam mengungkap sejarah tentang pembantaian simpatisan PKI. Adi adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian 1965-1966 di salah satu desa perkebunan terpencil di Sumatera Utara. Lahir pasca pembantaian 1965-1966, Adi tumbuh dalam keluarga yang secara resmi dinyatakan "tidak bersih lingkungan" karena kakaknya, Ramli, dianggap simpatisan PKI. Bersama Adi, Oppenheimer mengumpulkan para korban dan penyintas pembantaian 1965-1966, mendokumentasikan kesaksian mereka tentang sejarah pahit itu.


Banyak hal sebenarnya yang masih belum terungkap dalam film tersebut dan masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Joshua Oppenheimer? Siapa yang berada dibalik pembuatan dan penayangan film Senyap? Apa tujuan mereka? Amankah Adi sekeluarga? Ah, tentu saja jika hal ini dibahas bakal terlalu jauh.


Dari film ini saya menjadi teringat akan hal yang hampir sama persis dengan apa yang saat ini kita alami. Kita? Iya, para mahasiswa yang merasakan perasaan yang sama dengan saya tentunya. Secara tak sadar kita sebagai mahasiswa saat ini seakan di Senyap kan. Mulut dan mata kita dibungkam. Tak percaya? Lihat saja sekarang, peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang tua dilaksanakan secara sepihak. Mereka selalu berdalih bahwa kebijakan murni untuk kebaikan kita, mahasiswa. Beranggapan bahwa kita adalah anak-anak mereka. Mulai dari pembatasan jam malam. Penggunaan gedung Kegiatan mahasiswa di hari Sabtu dan Minggu dibatasi. Sekret hanya digunakan untuk kantor. Dan dana kegiatan mahasiswa dipotong besar-besaran.


 Sedangkan kita? Disibukkan dengan dunia akademis yang akhirnya membuat kita lalai dan melupakan hal-hal sekitar. Yang secara tidak sadar sebenarnya menciptakan kita sebagai mesin produksi. Kita yang diiming-imingi bahwa patuh dan taat akan selalu menuju sebuah kesuksesan besar. 


Mahasiswa adalah agent of change, kata dosen. Mahasiswa adalah agent of control, kata kakak-kakak ospek kemarin. Hal ini tak lebih dari slogan, umbul-umbul, janji palsu yang ditawarkan untuk meningkatkan kepopuleran, menarik masa. Faktanya, manusia yang meneriakkan panji-panji macam itu saat ini tak bisa berbuat apa-apa. Menyerah karena takut tak cepat lulus jika membangkang. 


Hampir sama persis dengan apa yang dikatakan oleh adi di Film itu, “Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa”. Iya, benar. Mungkin mereka yang mengganggap dirinya orangtua merasa bersalah karena belum mampu menjadi orang tua yang baik bagi kita. Mereka paham bahwa kebijakan yang mereka tawarkan mengkebiri kreatifitas kita sebagai mahasiswa dan peraturan yang mereka terapkan selalu sepihak. Padahal mereka sendirilah yang mengatakan bahwa Negara kecil ini menerapkan sistem Demokrasi. Mungkin hal tersebut menjadi sebuah penyesalan yang sangat dalam, sehingga saat ini mereka (yang selalu mengklaim dirinya adalah orang tua) mati rasa!  


            “Jika mata dan mulut kita dibungkam maka pena yang berbicara!” (saya lupa kalimat ini milik siapa, hehehe)