Jumat, 27 Maret 2015

Mahasiswa, Agent of Silence!



"Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa," ujar Adi


Begitu kiranya kalimat yang keluar dari mulut Adik Ramli, Adi, yang saya tangkap saat menonton film karangan Joshua Oppenheimer kemarin malam. Sebenarnya sudah kedua kalinya saya menonton film Senyap (The Look of Silence). Tapi, sengaja saya menonton sekali lagi karena saya tak sempat merangkum nya menjadi tulisan.


Film ini menceritakan tentang usaha Adi, si Tukang kacamata keliling dalam mengungkap sejarah tentang pembantaian simpatisan PKI. Adi adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian 1965-1966 di salah satu desa perkebunan terpencil di Sumatera Utara. Lahir pasca pembantaian 1965-1966, Adi tumbuh dalam keluarga yang secara resmi dinyatakan "tidak bersih lingkungan" karena kakaknya, Ramli, dianggap simpatisan PKI. Bersama Adi, Oppenheimer mengumpulkan para korban dan penyintas pembantaian 1965-1966, mendokumentasikan kesaksian mereka tentang sejarah pahit itu.


Banyak hal sebenarnya yang masih belum terungkap dalam film tersebut dan masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Joshua Oppenheimer? Siapa yang berada dibalik pembuatan dan penayangan film Senyap? Apa tujuan mereka? Amankah Adi sekeluarga? Ah, tentu saja jika hal ini dibahas bakal terlalu jauh.


Dari film ini saya menjadi teringat akan hal yang hampir sama persis dengan apa yang saat ini kita alami. Kita? Iya, para mahasiswa yang merasakan perasaan yang sama dengan saya tentunya. Secara tak sadar kita sebagai mahasiswa saat ini seakan di Senyap kan. Mulut dan mata kita dibungkam. Tak percaya? Lihat saja sekarang, peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang tua dilaksanakan secara sepihak. Mereka selalu berdalih bahwa kebijakan murni untuk kebaikan kita, mahasiswa. Beranggapan bahwa kita adalah anak-anak mereka. Mulai dari pembatasan jam malam. Penggunaan gedung Kegiatan mahasiswa di hari Sabtu dan Minggu dibatasi. Sekret hanya digunakan untuk kantor. Dan dana kegiatan mahasiswa dipotong besar-besaran.


 Sedangkan kita? Disibukkan dengan dunia akademis yang akhirnya membuat kita lalai dan melupakan hal-hal sekitar. Yang secara tidak sadar sebenarnya menciptakan kita sebagai mesin produksi. Kita yang diiming-imingi bahwa patuh dan taat akan selalu menuju sebuah kesuksesan besar. 


Mahasiswa adalah agent of change, kata dosen. Mahasiswa adalah agent of control, kata kakak-kakak ospek kemarin. Hal ini tak lebih dari slogan, umbul-umbul, janji palsu yang ditawarkan untuk meningkatkan kepopuleran, menarik masa. Faktanya, manusia yang meneriakkan panji-panji macam itu saat ini tak bisa berbuat apa-apa. Menyerah karena takut tak cepat lulus jika membangkang. 


Hampir sama persis dengan apa yang dikatakan oleh adi di Film itu, “Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa”. Iya, benar. Mungkin mereka yang mengganggap dirinya orangtua merasa bersalah karena belum mampu menjadi orang tua yang baik bagi kita. Mereka paham bahwa kebijakan yang mereka tawarkan mengkebiri kreatifitas kita sebagai mahasiswa dan peraturan yang mereka terapkan selalu sepihak. Padahal mereka sendirilah yang mengatakan bahwa Negara kecil ini menerapkan sistem Demokrasi. Mungkin hal tersebut menjadi sebuah penyesalan yang sangat dalam, sehingga saat ini mereka (yang selalu mengklaim dirinya adalah orang tua) mati rasa!  


            “Jika mata dan mulut kita dibungkam maka pena yang berbicara!” (saya lupa kalimat ini milik siapa, hehehe)

Selasa, 17 Februari 2015

Hai Su!


 “Suopel, sunita, subebek, dedisu, yunus = asu!” teriaknya. Dulu kami sering mengobrol, berkumpul bersama. Ukm hanya tempat bernaung. Kami seperti saudara. Tak terpisahkan aku kira. Suka, duka.

Siang itu pukul dua. Aku lupa hari apa itu. Yang aku ingat hari itu cerah dan saat itu hanya kuhabiskan untuk tidur di sekret plantarum. Amat membosankan. Disebelahku seseorang laki-laki bertubuh kurus tinggi sedang tertidur pulas. Dia tak mendengkur. Aku berjanji akan membangunkannya pukul tiga. hanya itu yang ku ingat. Dia tertidur dengan wajah menghadap jendela. aku tak hanya berdua saat itu. Ada satu lagi laki-laki di pojok ruang. Laki-laki dengan rambutnya yang berantakan. Acak-acak. Kulitnya hitam bukan karena sinar matahari, tapi karena tak pernah dirawat. Tak tersentuh sabun. Dia sedang asik dengan komputer. Dia sangat sibuk. Dia memainkan musik keras-keras. Aku tak ingat music apa, yang ku ingat music itu sangat mengganggu. Aku tak suka.
Aku tak memarahinya. Maksudku memarahi si laki-laki berantakan itu. Aku hanya diam. Mengumpat didalam hati. Karena aku tahu sia-sia saja mengomel padanya. Dia mungkin hanya diam. Atau menanggapi seperlunya. Aku tak suka diabaikan. Maka aku memilih diam saja.
Sehari-hari aku menghabiskan waktu disekret. Kami dulu menganggap itu adalah rumah. Rumah kedua. Pagi, sore, siang, malam. Apa yang dilakukan? Tidak ada. Hanya mengobrol, bercanda, saling maki, saling caci. Menyenangkan? Tentu sangat menyenangkan bagiku. Entah bagi mereka. Dulu aku percaya mereka juga merasa senang. Sepertiku.
Saat ini, aku mulai ingat bahwa terkadang badut mebutuhkan topeng dan riasan wajah yang sedemikian menor untuk mendapatkan perhatian. Kepercayaan bahwa mereka adalah teman yang menghibur. mungkin kemarin lalu mereka hanya berpura-pura. Pura-pura bercanda, pura-pura tertawa, pura-pura memaki. Oh, ini tentu saja hanya ketakutanku saja. Tuhan, Semoga itu hanya ketakutanku saja.
***
  Braaaak…
Suara pintu dibanting.
Aku menoleh,
“hay, Suopel, subebek, dedisu, yunus = asu! Loh, mana subebek?” teriaknya. Dia perempuan dengan suara nyaring berisik.
“gak enek” kata si laki-laki berantakan tanpa menoleh.
“cok, jam piro iki?” bisik laki-laki di sebelahku.
“masih belum jam 3 kok” jawabku, sambil menengok jam yang menggantung didinding diatas pintu sekret.
“asu, garai wong kaget pas turu!” kata laki-laki disebelahku. Dia mengomel tak jelas. Kemudian berganti arah tidur. Dia membelakangiku. Aku sendiri lupa aku sedang melakukan apa. Mungkin membaca majalah.
“lopo mas?” Tanya perempuan tadi pada laki-laki berantakan. Yang kumaksud perempuan tadi adalah perempuan yang mendobrak pintu sekret.
Si laki-laki berantakan itu diam saja. Kenapa aku tahu? Karena perempuan itu ngomel karena tak dijawab. Perempuan itu diabaikan. Aku terkikik geli. Perempuan itu langsung membuka laptopnya dan asik sendiri. Aku diam saja. Hari itu aku sedang malas untuk bicara. Jadi aku diam saja.
Setelah itu aku lupa. Aku tak ingat kejadian selanjutnya. Aku benar-benar lupa. Hahaha hanya cerita sepele itu yang kuingat dengan jelas. Selebihnya aku tak bisa menceritakannya. Terlalu banyak, hingga aku lupa memulainya darimana.
***
Semalam, aku tak sengaja berpapasan dengan si laki-laki berantakan. Dia menggunakan kaos kuning dan memakai sarung. dia selesai sholat. Dia mengingatkanku kalau aku merindukannya. Aku merindukan mereka. Amat rindu.
Semalam, aku mengingat banyak hal. Kejadian masa lalu. Benar mungkin apa yang dikatakan choi beberapa waktu yang lalu. Katanya, aku selalu mencintai masalalu. Mengenang dan berharap kejadian itu bisa berulang.
Saat ini aku ingin sekali menyapa teman lamaku ini. seperti sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka. Lama sekali.
hai nus! Bagaimana kabarmu? Terkadang aku lupa untuk memanggilmu ‘mas’. Saat ini tentu kamu sudah sering mandi. Sudah sering tersentuh sabun. Sudah sering gosok gigi. Sudah ada yang mengingatkanmu bukan? Memarahimu jika kamu lupa. Haha, Melihat dirimu rapi begitu, aku tahu kamu tak salah pilih cari pendamping.
Bagaimana kuliahmu? Kata seseorang yang mengaku dirimu di BBm mengatakan kalau kamu sedang menuju toga, Benarkah? Lama, tak mendengarkanmu bercerita. ceritamu selalu saja berhasil meyakinkanku. Aku juga merindukan nasihatmu. Meskipun aku selalu saja tak peduli. Setiap aku ada masalah aku selalu tahu, bahwa kamu adalah tempat yang pas untuk berbagi. Sekarang, kita jarang berkomunikasi. Seperti orang asing. Yang hanya saling menyapa “hai”. aku tak suka. Tapi aku diam saja.
Kalau memang benar kabar bahwa kamu sebentar lagi akan menikah, aku tentu akan sangat marah padamu nus. Aku marah karena tidak mengetahuinya dari mulutmu sendiri. Aku mengganggapmu saudara, harusnya kamu berkabar terlebih dahulu. Aku telah mengganggapmu lebih dari teman. Kita saudara. Kamu dulu pernah mengatakannya bukan? Saudara tak seharusnya begitu.
            ***
            Hai ded! Si laki-laki kurus tinggi. Kita lebih sering bertemu. Walaupun, pertemuan kita tak seakrab dulu. kamu sekarang lebih rapi. Lebih sering mandi daripada aku. Kamu paling sabar diantara yang paling sabar menghadapi aku, dan tentu saja kami. Kami si Perempuan-perempuan menyebalkan katamu.  
***
Hei su! Ayo ngopi lagi.
Aku berjanji lain kali aku akan menulis lebih bagus dari ini.
***
Rumah kosong.
Sudah lama ingin dihuni.
Adalah teman bicara; Siapa saja atau apa
Jendela, kursi
atau bunga dimeja.
Sunyi, menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir dari mimpi
(puisi Subagio Sastrowardoyo)

Selasa, 16 Desember 2014

Hujan menye-menye

Ada hujan. Halilintar. Awan gelap. Ruangan sekretku muram. Tak ada orang, hanya aku seorang diri dipojok ruang. Suasana semacam ini yang selalu kucari. Tapi waktunya tak pas. Tak ada selimut. Tak ada bantal dan guling. Tak ada cahaya remang-remang lampu kamar.

Aku tak suka hujan menye-menye. Apalagi yang gerimis. Hujan kok gak niat. Aku lebih suka hujan deras. Ada halilintar. Serta awan gelap. Semuanya basah. Sama rata. Gak setengah-setengah. Lihat lubang-lubang dijalan semuanya meluap. Air dimana-mana. Haha,

Hujan macam ini biasanya gak bertahan lama. Seketika datang. Kemudian selesai. Berharga bukan? Makanya ada ritual khusus untuk menikmati. Gak sembarangan. Harus ada selimut, bantal, guling, pop mie, sama telur mata sapi. Ini yang namanya surga. Apalagi ditambah film bagus yang menemani. Wih, bad day is over!

Woi, kamu dimana? Tadi sore hujan. Aku mencarimu kemana-mana. Dibawah meja, bawah kursi, dibalik lemari. Tapi tak menemukanmu. Padahal aku sudah menyiapkan dua cup pop mie rasa baso, dua telor mata sapi, dua bantal, dua guling, dan satu selimut. Kamu, masih belum tertarikkah?

Jumat, 19 September 2014

rindu

sore kemarin saya sedang sumpek dengan segala hal. entah mengapa segala hal yang saya kerjakan salah. Gagal lebih tepatnya. Jangan menanyakan saya gagal dalam hal apa, karena saat ini saya tidak mau menceritakan hal itu. Saya ingin mengais rindu, menumpuknya menjadi satu. Saya rindu kalian, amat rindu.

Sore kemarin saya menghabiskan waktu. Jalan-jalan naik sepeda. Berkeliling mulai dari jalan kalimantan, jalan kartini, dan gajah mada. Diseberang jalan yang saya lalui saya bertemu bapak penjual es campur. Sepi, tak ada pelanggan. Oke, saya berpikir lebih baik saya minum es campur disitu saja. Setelah memesan, kami sempat mengobrol. Entah mengapa, mengobrol dengan bapak tersebut membuat saya rindu keluarga. Lebih tepatnya kalian.


Saat pulang saya mengingat banyak hal. seperti baru kemarin, saya tidur sekamar dengan mu mbak.  kamu yang selalu marah karena sekamar dengan saya. sekarang tentu saja dua dipan tempat tidur kita sudah jadi satu kamar besar. sekarang kita sudah jarang berbagi kamar berdua. sudah ada zoe dan suamimu yang menggantikan. terkadang saya sedih karena posisi saya sudah terganti. haha..


Mbak, saya rindu ocehanmu sepulang kerja. Entah mengapa hal sederhana itu dapat mengikis kegundahan saya. menyaksikan celoteh konyolmu dengan suamimu. serta, mendengarkan zoe yang sekarang mungkin lebih cerewet dan tentu saja judes. haha, senangnya berkeluarga.

Tenanglah, nasihatmu selalu saya dengarkan, meskipun terkadang saya memang bertingkah tidak peduli.

bagaiman kabarmu mal? seperti baru kemarin saja saya menggendong ikmal yang masih bayi. menggendongmu kemanapun saya pergi saat bapak dan emak tak ada dirumah. menyuapi, menemanimu mandi. sekarang, kamu sudah kelas 4 SD, sudah merasa malu jika disuapin apalagi ditemani mandi. tingkah polamu yang nakal baru terasa lucu jika saya sudah berjarak denganmu, mal.

anehnya, jika saya melihat anak kecil saya selalu mengingatmu. saya tahu, ikmal tidak mempunyai waktu yang cukup panjang bersama saya, apalagi cacak dan mbak eni. saya seringkali terpingkal jika mengingat komentar mu leh, "mbak nurma iku perempuan liar. sukanya jalan-jalan keluar rumah sekarang" haha..

saya juga ingat saat melempar kecoa padamu cak, saat bersih-bersih menjelang hari raya idul fitri. kamu mencak-mencak marah dan saya lari terbirit-birit keluar rumah sambil terbahak. cacak benci kecoa.

katamu cak, saya ahli buat mie instan. oleh karena itu jika teman-teman cacak lagi main dirumah, saya rajin membuatkan mie instan.

Cacak juga sering memanggil saya pecundang. Ingat? haha..

Cak, saya selalu menghilangkan barang yang kamu titipkan. Mulai dari komik yang pernah kalian sewa, Headseat, baju dan banyak hal hingga saya lupa. ceroboh, saya tahu. Cacak juga tak pernah memanggil saya ‘nurma’ tapi ‘om’. Saya juga selalu jengkel dengan sikap acuhmu. Memarahi saya seenaknya. Menjengkalkannya lagi hal semacam itu kini bikin rindu.

Saya selalu hobi membuat kalian jengkel ya? haha,

Saya ingat pada saat itu saya selalu cari perhatian, entah dengan bertingkah konyol ala shincan atau kenakalan-kenakalan yang terkadang membuat emosi kalian  meledak. Percayalah, saya hanya ingin menarik perhatian kalian.

Saya selalu terpingkal-pingkal jika mengingat cerita tentang radio yang disalah artikan dengan bom. Kalau tidak salah saat itu cacak sudah di jember ya? kegaduhan bapak sama emak. mendengarkan dongeng yang tiada habis-habisnya dari bapak. juga kegeriduhan keluarga kita dan tentu saja yang selalu telat dalam segala hal.


Seandainya saja saya mampu melipat jarak. Tentu saya tak perlu repot-repot mengirim pesan, menabung rindu.


Kamar kita kini teratur rapi, sudah mulai jarang ditempati. Sekarang, mbak eni sudah mempunyai keluarga baru. Cacak juga, bulan depan akan menikah. Saya juga, yang memilih sibuk dengan urusan yang sebenarnya tidak rumit namun dirumit-rumitkan. ah, mahasiswa.


Jangan lupa untuk pulang kerumah.


Hai mbak, hai cak, hai juga dik. Bagaimana kabar kalian? Semoga baik :)







ikmal, cacak, keluarga kecil mbak eni

Kamis, 04 September 2014

jangan dibaca

Tadi siang aku mimpi. Bermimpi tentang banyak hal. Ada yang menyenangkan tapi banyak yang tidak. Aku tidur di klinik rumah sakit. Disebelah tempat tidur temanku yang tengah sakit. Sekitar pukul 12.30 aku lelap.

Aku bermimpi tentang hantu dirumah sakit. Bermimpi tentang laki-laki yang tidak ingin kusebut namanya. Bermimpi tentang keong. Dan kemudian aku bangun. Ternyata sudah pukul 3 sore. Aku pamit pulang. Ingin mandi.

Kepala ku pusing. Entah karena tidur siang, entah karena mimpi, atau kecapekan. Mungkin, tubuh sedang butuh air, pikirku. Segera saja aku minum tiga gelas air putih. Hasilnya, tetap saja pusing. Aku mencoba untuk tidur lagi, tapi tidak bisa. Perutku mual. mungkin butuh makanan yang pedas. Aku membayangkan mie ayam. Huuu.. enak. Segera saja aku bergegas kembali ke klinik rumah sakit.

Kepala ku masih pusing, mual. Ingin rasanya aku mengikatkan tali dikepalaku. Hal semacam ini biasa kulakukan jika sakit kepala tak tertahankan. Lumayan. Karena acara beli mie ayam gagal, aku main uno.

Sekarang, kepala ku pusing pakek bingits :3


Rabu, 03 September 2014

Astro Rangers


Opel Rangers
Suka berteori, Paling keren, Penikmat dan penggila asteoroid,
Anggun, penyanyi solo keles *hueks,

Keong Rangers
Berpikiran keong, pengendali perasaan amatiran,
Belum ditemukan titik kelebihan,

Bebek Rangers
Penguji coba laki-laki, suka terjebak dalam perangkap perasaan sendiri,
Sabar dalam menghadapi para rangers yang ambigu,

Nonod Rangers
Pengelola UKM Kepo, kepo luar-dalam,
Bercita-cita menggaet hati pak guru *uops,



Alasan kenapa saya menamai asteoroid dengan penambahan angka dibelakang adalah selain untuk membedakan, juga karena orang dewasa sangat menyukai angka. Entahlah, menurut orang dewasa semua hal dapat dipercaya dengan angka. Misalnya saja, pada saat kamu membawa teman kerumah. Orang dewasa tidak pernah menanyakan hobi mu apa? Apakah menyukai  kupu-kupu dengan warna biru dengan campuran hijau toska diatasnya, atau tentang hal-hal tidak angka lainnya. Mereka sering menanyakan seperti, umur berapa? Berapa penghasilannya? Berapa nilai saham saat ini? Hahaha,
saya hanya ingin lebih menyelami orang dewasa.. 

Kata keong,

“sekarang jam berapa?” tanyamu. Kamu merapikan kartu UNO yang memiliki gambar doraemon. UNO kawe, ejekmu. Entah, akhir-akhir ini kita sering bermain kartu ini.
“jam 2 pagi” jawabku.
“ah, yuk ngopi.. “
“yuk..”  jawabku ringkih. Padahal kantuk sudah menebal di pelepuk mata. Tapi entah, kenapa aku masih mau menemani mu. aku tahu, malam ini kamu minta ditemani ngobrol. Lagi.

Malam itu, motor milikmu sudah mogok karena kehabisan bensin. Dan motorku sedang ada di kos. Haha, ngopi batal, pikirku. Tapi kamu seperti biasa, kalau sudah ingin, Pasti ngotot. Alhasil, aku menemanimu beli bensin. jarak memang tidak terlalu jauh. Tapi karena malam sudah terlalu pagi, dan jalan sudah pasti sepi. aku tidak enak hati untuk membiarkan kamu beli bensin sendiri.

Pagi itu jam setengah 3 pagi. Jalan lenggang. Dan udara amat dingin. Kurapatkan jaketku. Kamu, tidak pakai jaket. Aku bertanya, apa kamu tidak kedinginan? (Padahal kamu yang jadi sopir) Kamu malah senyam-senyum sediri. Dan berkata, “aku rangers”.
“sombong” tukasku. Aku penasaran, sebenarnya manusia macam apa kamu?

kami tiba di asteoroid 286. Sebenarnya kamu ingin pergi ke asteoroid 568. Tapi aku takut. Kamu juga. Penjaga tentu tidak membiarkan kita masuk. Terlalu malam. Juga terlalu pagi.
Disitu, Kamu mentraktir aku makan bakso dan aku mentraktir kamu minum kopi. Kemudian kita mengobrol sampai pagi. Dengan lantangnya kamu mengatakan kalau tidak mungkin ngantuk karena disini terlalu ramai. Tentu saja, wong lokasinya dekat pasar. tapi, setengah jam kemudian kamu mengeluh minta pulang. Ngantuk.

Dasar.

Pukul 5 kita sampai kos. Kamu tidak sempat cuci muka, cuci kaki. dan langsung terkapar melihat bantal.
Ckck,
***

Keong, terimakasih telah menemani aku minum kopi tengah malam, tengah pagi, tengah siang, tengah jenuh, tengah senang, tengah tewas karena urusan rumit yang sebenarnya tidak rumit, tapi dirumit-rumitkan.